LAPORAN PRAKTIKUM
SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN
LERENG UTARA GUNUNG KLOTOK KEDIRI
Disusun
Oleh:
KELOMPOK 3
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
KEDIRI
2014
LAPORAN PRAKTIKUM
SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN
LERENG UTARA GUNUNG KLOTOK KEDIRI
Disusun
Oleh:
Kelompok
3
1.
Risky Widayanti 125040200113002
2.
Ayu Soekardi 125040218113019
3.
Nakita Chicka Tamara 125040218113001
4.
Sandi Satria Pamungkas 125040218113014
5.
M. Fatkur Rozak 125040218113023
6.
Ari Romadloni 125040218113015
7.
Dwi Yudha Kurniawan 125040218113006
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV
KEDIRI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dasar
utama melakukan klasifikasi dan memahami tanah adalah diskripsi profil tanah
yang dilakukan di lapang. Pengamatan di lapang pada dasarnya dibedakan menjadi
3 (tiga) macam, yaitu; 1) pengamatan identifikasi (pemboran), 2) pengamatan detil (minipit + pemboran), dan 3) deskripsi profil
tanah.
Evaluasi lahan merupakan
proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif penggunaan.
Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi
wilayah yang hendak dievaluasi. Adapun berbagai cara dalam proses perbaikan
yang dilakukan terhadap lahan akan memberikan gambaran tentang bagaiman cara penggunaan
lahan secara optimal, baik dan benar guna meningkatkan produktivitas lahan
khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan tanaman pertanian (Abdullah,
1993).
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa
mampu mendeskripsikan dan mengklasifikasikan
jenis tanah
2. Mahasiswa
mampu mengidentifikasi penggunaan lahan dan karakteristik sifat lahan
3. Mahasiswa
mampu menjelaskan keadaan umum suatu tanah
4.
Mahasiswa mampu mengetahui cara untuk mengevaluasi
lahan
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Survei
Tanah
Survei tanah dilakukan untuk menentukan tingkat
kemampuan lahan secara keseluruhan sebagai bahan pemetaan tanah dalam hubungan
dgn penentuan klasifikasi tanah. Lahan-lahan yg telah disurvai digolongkan dala
kelas-kelas yg sesuai dengan kemampuan berdasarkan dgn faktor-faktor yg bersifat
menghambat dalam pemanfaatan lahan tersebut terutama utk bidang pertanian.
Survai adl uraian keseluruhan dari aktifitas
dan proses termasuk didalam adl perumusan tujuan prosedur perencanaan
komplikasi data dan ekstraksi informasi dalam bentuk peta laporan dan sebagai
(Abdullah 1993).
Faktor-faktor yg
menunjang adl data-data mengenai sifat fisik kimia dan biologi tanah termasuk
bentuk wilayah iklim dan lain-lain secara keseluruhan baik sampai sangat
baik. Faktor-faktor penghambat seperti sifat-sifat fisik kimia dan
biologi tanah yang jelek keadaan iklim yg tidak sesuai bentuk wilayah berlereng
dan berbukit-bukit sering terjadi genangan air serta salinitas yg tinggi.
2.2 Evaluasi
Lahan
Dalam suatu proses kegiatan prencanaan penggunaan lahan (land
use planning) evaluasi lahan
menjadi salah satu komponen yang penting. Menurut Arsyad (2006) evaluasi
lahan merupakan proses penilaian atau keragaan lahan jika diperlukan untuk
tujuan tertentu, yang meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei dan studi
bentuk lahan, tanah, vegetasi, iklim, dan aspek lahan lainnya, agar dapat
mengidentifikasi dan membuat perbandingan berbagai penggunaan lahan yang
dikembangkan. Berdasarkan tujuan evaluasi, klasifikasi lahan dapat berupa
klasifikasi kemampuan lahan atau klasifikasi kesesuaian lahan. Evaluasi
lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu
dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi
lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan
keperluan. Menurut Sitorus (1985) prosedur evaluasi lahan terutama didasari
oleh adanya kenyataan bahwa penggunaan lahan yang berbeda memerlukan
persyaratan yang tidak sama, informasi yang yang diperlukan dalam evaluasi
lahan menyangkut tiga aspek utama, yaitu : lahan, penggunaan lahan dan aspek
ekonomis.
Menurut FAO (1976) bahwa
dalam evaluasi lahan sifat-sifat
lingkungan fisik dan
kimia suatu wilayah dirincikan dalam kualitas lahan dan tiap kualitas lahan
dapat terdiri dari satu karakteristik lahan yg umum memiliki hubungan satu sama
lainnya. Karakteristik lahan adl sifat-sifat tanah yg dapat diukur atau
diduga. Kualitas lahan adl sifat tanah yg kompleks dan berperan pada
penggunaan lahan yg spesifik.
Menurut
FAO (1976) dalam Djaenuddin, dkk, 2000), kegiatan utama dari
evaluasi lahan adalah sebagai berikut:
1.
Konsultasi pendahuluan : meliputi pekerjaan-pekerjaan
persiapan antara lain penetapan yang jelas tujuan evaluasi, jenis data yang
akan digunakan, asumsi yang digunakan dalam evaluasi, daerah penelitian serta
identitas dan skala survei.
2. Penjabaran
(deskripsi) dari jenis penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan dan
persyaratan-persyaratan yang diperlukan.
3. Deskripsi
satuan peta lahan (Land Mapping Unit) dan kemudian kualitas lahan (Land
Qualities) berdasarkan pengetahuan tentang persyaratan yang diperlukan
untuk suatu penggunaan lahan tertentu dan pembatas-pembatasnya.
4. Membandingkan
jenis pengguanaan lahan dengan tipe-tipe lahan yang ada. Ini merupakan proses
penting dalam evalusai lahan, dimana data lahan, penggunaan lahan dan
informasi-informasi ekonomi dan sosial digabungkan dan dianalisis secara
bersama-sama.
5. Hasil
dari butir ke-4 adalah hasil klasifikasi kesesuaian lahan.
6. Penyajian
dari hasil-hasil evaluasi.
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Pengamatan (minipit,bor)
Pengamatan
fieldtrip survey tanah dan Evaluasi Lahan dilaksanakan hari sabtu tanggal 24
Mei 2014 di Dusun Borok, Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur
Pada materi kali ini
akan diperkenalkan deskripsi profil tanah. Namun, pengamatan dilakukan pada
minipit yaitu lubang (liang) pengamatan tanah yang dibuat dengan menggunakan
skop dengan ukuran minimal 40x40 cm dan kedalaman 80 cm . Berbeda dengan profil
tanah, dimana pengamatan atau deskripsi tanah dilakukan pada lubang yang
sengaja digali pada tanah dengan ukuran panjang kurang lebih 2m, lebar 1m dan
dalam 2m.
3.3.1 Alat dan Bahan
Alat:
a. Alat
Penggali
|
Nama
Alat
|
Kegunaan
|
|
Cangkul
|
Untuk
mencangkul (menggali) tanah untuk membuat profil tanah
|
|
Sekop
|
Mempermudah
dalam mencangkul dan mengambil tanah untuk membuat minipit
|
|
Bor
|
Digunakan
untuk mengebor tanah
|
b. Deskripsi
Tanah
|
Nama
Alat
|
Kegunaan
|
|
Pisau
Tanah
|
Digunakan
untuk membuat batas horison tanah dan konsistensi tanah
|
|
Buku “Munsell Colour Chart”
|
Digunakan
untuk menentukan warna tanah
|
|
Botol
air
|
Sebagai
tempat air yang digunakan untuk membasahi tanah dalam menetukan tekstur,
struktur dan konsistensi tanah
|
|
Meteran (roll meter) 2 meter dj
|
Digunakan
untuk mengukur kedalaman profil tanah dan ketebalan horison yang telah digali
|
|
Sabuk profil
|
Digunakan
untuk menentukan batas ketebalan horison
|
|
Kartu Deskripsi Profil Tanah, Kartu
pemboran, Kartu Minipit
|
Digunakan
untuk mencatat data dari hasil survei tanah
|
|
Meja
dada
|
Digunakan
sebagai tempat (alas) untuk mencatat data survei
|
|
Alat tulis (bolpoin, kertas, pensil, penghapus, setipo,
penggaris)
|
Digunakan
untuk mencatat dan membuat laporan hasil survei
|
|
Kamera
|
Digunakan
untuk mendokumentasikan kegiatan survei
|
|
Kantong
Plastik
|
Digunakan
sebagai tempat sampel tanah yang diambil
|
c. Deskripsi
Lokasi
|
Nama
Alat
|
Kegunaan
|
|
Kompas
|
Digunakan untuk menetukan arah dalam mencari
titik pengamatan
|
|
GPS
|
Digunakan untuk menentukan titik
pengamatan yang pertama
|
|
Klinometer
(Busur)
|
Digunakan untuk menentukan besar
kelerengan suatu tempat survei
|
d. Referensi
Lapangan
|
Nama
|
Kegunaan
|
|
Buku Panduan
Deskripsi Lapang
|
Digunakan
sebagai panduan untuk mengumpulkan data hasil survey
|
|
Buku
Keys to Soil Taxonomy
|
Untuk menentukan jenis tanah, epipedon,
dan endopedon yang berada di daerah survei
|
.
Bahan:
|
Nama Bahan
|
Kegunaan
|
|
Air
|
Untuk
menentukan tekstur, struktur, dan konsistensi tanah
|
|
Tanah
|
Untuk
menentukan tekstur, struktur, dan konsistensi tanah
|
3.2
Deskripsi dan Klasifikasi
3.2.1 Deskripsi Tanah
|
Lembab
|
Basah
|
|||
|
Menentukan warna (menggunakan
soil munsell colour chart)
Menentukan struktur tanah (dengan cara
digoyang/dipecah sampai menjadi agregat terkecil lalu disesuaikan dengan
klasifikasinya)
|
Menentukan tekstur tanah (dengan cara memijat tanah
yang basah dan merasakan kehalusan tanah)
|
3.2.2 Klasifikasi Tanah
3.3 Evaluasi Lahan
3.3.1 Kondisi Lahan
Kondisi lahan dapat diketahui
dengan melakukan pengamatan tanaman di sekitar lahan. Pada titik 1 vegetasinya
ada tanaman jati, tebu, lamtoro, dan mangga. Secara fisiografi terdapat pada
lereng tengah dengan relief gumuk pada kelerengan 5 %.
Pada
titik 2 vegetasinya ada tanaman mangga dan semak. Secara fisiografi terdapat
pada lereng tengah dengan relief gumuk pada kelerengan 10 %.
Pada
titik 3 vegetasinya ada tanaman mangga dan ubi kayu. Secara fisiografi terdapat
pada lereng tengah dengan relief bergunung pada kelerengan 25 %.
3.3.2
Kesesuaian Lahan dan Kemampuan Lahan
Urutan kegiatan dalam evaluasi lahan antara lain evaluasi
kemampuan lahan dan kesesuaian lahan. Cara kerja penentuan kemampuan lahan dan
kesesuaian lahan yaitu pengkelasan data-data pengukuran lapangan di tiap satuan lahan, cocokkan informasi data
lapangan dengan tabel kemampuan lahan, penentuan faktor pembatas dengan melihat faktor
yang memiliki potensi kerusakan lahan terberat, penentuan kelas dan sub kelas kemampuan lahan, penyusunan arahan penggunaan lahan berdasarkan kelas
kemampuan lahan, isikan data lapangan ke dalam tabel isian keevaluasi
kesesuaiaan lahan, cocokkan data
lapangan ke dalam persyaratan tumbuh suatu tanaman, tentukan kelas kesesuaian lahan tiap karakteristik
lahannya, tentukan faktor
pembatas terberat yang ditentukan dari karakteristik lahan yang dapat
menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman, tentukan kelas kesesuaian lahan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Horison Penciri dan Genetik
Tabel 1 Lokasi titik 1
|
Nomor Horison
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Simbol Horison
|
R
|
A
|
Bw1
|
Bw2
|
|
|
Kedalaman (cm)
|
0-2
|
2-20
|
20-28
|
28-64
|
|
|
Batas
|
Kejelasan
|
|
J
|
J
|
B
|
|
Topografi
|
|
O
|
O
|
O
|
|
|
Struktur
|
Tipe
|
Remah
|
remah
|
Gumpal Membulat
|
Gumpal bersudut
|
|
Ukuran
|
1-2 mm
|
2-5 mm
|
2-5 mm
|
5-10 mm
|
|
|
Warna
|
10YR 6/3
|
10 YR 2/1
|
10 YR 3/3
|
10YR 2/1
|
|
Titik lokasi pertama mempunyai 4 horison, horison
pertama mempiliki kedalaman 0-2 cm dengan material pasir. Warna tanah yang
ditemukan pada horison ini adalah abu-abu dengan bahan organik yang rendah.
Tekstur tanah adalah pasir dengan tekstur yang kasar, tidak melekat dan tidak
dapat dibentuk bola atau gulungan. Sruktur tanahnya remah karena berupa pasir
dengan batas horison jelas dan berombak. Horison kedua dengan kedalam 2-20 cm, struktur
tanahnya remah dengan ukuran 2-5 mm dan mempunyai simbol horison A. Struktur
tanah remah dengan ukuran 2-5 mm. Batas horison berombak secara jelas. Horison
3 mempunyai struktur tanah gumpal membulat dengan simbol horison Bw, mempunyai
kedalaman 20-28 cm. Horison terakhir adalah horison 4 memiliki kedalaman 28-64
cm bersturktur gumpal bersudut, batas horison baur dan berombak.
Tabel 2 Lokasi titik 2
|
Nomor Horison
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Simbol Horison
|
R
|
A
|
Bw1
|
Bw2
|
|
|
Kedalaman (cm)
|
0-2
|
2-16
|
16-22
|
22-76
|
|
|
Batas
|
Kejelasan
|
|
N
|
B
|
J
|
|
Topografi
|
|
O
|
R
|
R
|
|
|
Struktur
|
Tipe
|
Remah
|
Sudut membulat
|
Butir
|
Gumpal bersudut
|
|
Ukuran
|
1-2 mm
|
1-2 mm
|
1-2 mm
|
2-5 mm
|
|
|
Warna
|
10YR 6/3
|
10 YR 3/4
|
10 YR 3/2
|
7,5 YR 3/4
|
|
Lokasi
titik 2 mempunyai 4 horison, horison pertama memiliki kedalaman 0-2 cm dengan
material pasir, struktur tanahnya remah dengan ukuran 1-2 mm. Warna tanah yang
ditemukan pada horison ini adalah abu-abu dengan bahan organik yang rendah.
Tekstur tanah adalah pasir dengan tekstur yang kasar, tidak melekat dan tidak
dapat dibentuk bola atau gulungan. Sruktur tanahnya remah karena berupa pasir
dengan batas horison jelas dan berombak. Horison kedua dengan kedalaman 2-16
cm, struktur tanahnya sudut membulat dengan ukuran 1-2 mm dan mempunyai simbol
horison N. Horison 3 mempunyai struktur tanah butir dengan simbol horison Bw,
mempunyai kedalaman 16-22 cm. Horison terakhir adalah horison 4 memiliki
kedalaman 22-76 cm bersturktur gumpal bersudut, batas horison baur dan
berombak.
Tabel 3 Lokasi Titik 3
|
Nomor Horison
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
|
Simbol Horison
|
A
|
A
|
Bw1
|
Bw2
|
Bt
|
|
|
Kedalaman (cm)
|
0-3
|
3-20
|
20-45
|
45-51
|
51-74
|
|
|
Batas
|
Kejelasan
|
|
J
|
J
|
A
|
J
|
|
Topografi
|
|
O
|
T
|
O
|
O
|
|
|
Struktur
|
Tipe
|
Remah
|
Gumpal Bersudut
|
Remah
|
Remah
|
Gumpal Membulat
|
|
Ukuran
|
-
|
2-5
|
1-2
|
2-5
|
5-10
|
|
|
Warna
|
7,5 YR 2,5/1
|
7,5 YR 3/2
|
10 YR 3/2
|
Glay 1 2,5/N
|
7,5 YR 2,5/2
|
|
Lokasi
titik 3 mempunyai 5 horison, horison pertama memiliki kedalaman 0-2 cm dengan
material pasir. Warna tanah yang ditemukan pada horison ini adalah abu-abu
dengan bahan organk yang rendah. Tekstur taah adalah pasir dengan rasa yang
kasar, tidak melekat dan tidak dapat dibentuk bola atau gulungan. Sruktur
tanahnya remah karena berupa pasir dengan batas horison jelas dan berombak.
Horison kedua dengan kedalam 3-20 cm, struktur tanahnya gumpal bersudut dengan
ukuran 2-5 mm dan mempunyai simbol horison A. Struktur tanah remah dengan
ukuran 1-2 mm. Batas horison berombak secara jelas. Horison 3 mempunyai
struktur tanah remah dengan simbol horison Bw, mempunyai kedalaman 18-45 cm.
Horison 4 adalah horison yang memiliki kedalaman 45-51 cm bersturktur remah,
batas horison baur dan berombak. Horison terakhir adalah horison yang memiliki
kedalaman 51-74 cm berstruktur gumpal membulat dengan ukuran 5-10 mm dengan
simbol Bt.
4.2 Klasifikasi
Tabel 4 Klasifikasi Tanah
|
Parameter
|
Titik I
|
Titik II
|
Titik III
|
|
Ordo
|
Inceptisol
|
Inceptisol
|
Alfisol
|
|
Endopedon
|
Kambik
|
Kambik
|
Argelik
|
|
Epipedon
|
Umbrik
|
Okrik
|
Umbrik
|
|
Permeabilitas
|
Sedang
|
Agak lambat
|
Agak lambat
|
Urutan à epipedon à endopedon à ordo à sub ordo à dst
Tanah pada titik pengamatan 1 ini memiliki epipedon Umbrik
karena resistensi lebih lunak, value 6 atau kurang, chroma 3 kurang jika lembab
dan endopedon Kambik. Karena tanah ini memiliki horison kambik sehingga dapat dimasukkan pada ordo Inseptisol. Pada subordo tanah ini tergolong Udept. Selanjutnya tanah ini masuk pada grup Dystrudept. Pada subgrup tanah ini masuk pada Humic Dystrudept.
Tanah pada titik pengamatan 2
ini memiliki epipedon Okrik. Endopedon Kambik.
Tanah ini dapat dimasukkan pada ordo Inseptisol. Pada subordo tanah ini
tergolong Udepts karena memiliki ciri Inseptisol yang lain. Selanjutnya tanah ini masuk pada grup Dystrudepts karena terdapat Udept yang lain. Pada subgrup
tanah ini masuk pada Typic Dystrudepts. Mempunyai ciri Dystrudepts yang lain.
Tanah pada titik pengamatan 3 ini memiliki epipedon Umbrik.
Endopedon Argilik. Tanah ini dapat dimasukkan pada ordo Alfisol.
Pada subordo tanah ini tergolong Udepts
karena memiliki ciri
Inseptisol yang lain.
4.3 Kelas Kemampuan Lahan
Tabel 5. Data kemampuan lahan
|
Sifat Fisik
|
Titik
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
Kedalaman (cm)
|
0-64
|
0-76
|
0-74
|
|
Aliran permukaan
|
Sedang
|
lambat
|
Lambat
|
|
Tekstur
|
Lempung liat berpasir
|
Agak halus
|
Agak kasar
|
|
Drainase alami
|
3-sedang
|
3-sedang
|
3-sedang
|
|
Lereng
|
5%
|
10%
|
25%
|
|
Erosi
|
Permukaan
|
permukaan
|
Permukaan
|
|
Bahaya erosi
|
Ringan
|
Ringan
|
Cukup
|
|
Tanaman utama
|
Jati
|
Mangga
|
Mangga
|
|
Sistem pemanenan
|
Monokultur
|
Agroforety
|
Tumpang sari
|
|
Sumber air
|
Sumur
bor
|
Sumur bor
|
Sungai
|
|
Sistem irigasi
|
Tadah
hujan
|
Tadah hujan
|
Permukaan
|
|
Bahaya Banjir
|
Tidak
ada
|
Kadang-kadang
|
Kadang-kadang
|
•
A profil
(tanah daerah dataran tinggi dengan bahan induk batuan beku)
–
Kedalaman nilai
–
30 – 60 cm 10
– 30
–
60 – 90 vm 30
– 50
–
90 – 120 cm 50 – 70
–
120 – 180 cm 70 – 80
–
180 cm 80
– 100
•
B (tekstur
tanah )
–
Lempung liat berpasir 100
–
Lempung
berpasir halus 100
–
Lempung 100
–
Lempung
berdebu 95
–
Lempung
berpasir 90
–
Pasir halus
berlempung 90
–
Lempung liat
berdebu 90
–
Lempung
berliat 85
•
C (lereng)
–
Hampir datar (0-2%) 100
–
Agak
berombak (0-2%) 95-100
–
Agak
berlereng (3-8%) 95-100
–
Berlereng (3-8%) 85-95
–
Berlereng
sedang (9-15%) 85-95
–
Bergelombang
(9-15%) 70-80
–
Berlereng
kuat (16-30) 70-80
–
Berbukit
(16-30%) 30-50
–
Curam
(30-45%) 5-30
–
Sangat curam
(>45%) 5-30
•
D (Aliran
Permukaan)
–
Tergenang 15-30
–
Sangat Lambat 30-50
–
Lambat 50-80
—
Sedang 80-100
—
Cepat 50-80
—
Sangat Cepat 15-30
•
E (Bahaya Erosi)
– Tidak
ada 90-100
– Ringan
80-95
– Cukup
50-80
– Hebat
30-50
– Sangat
hebat 15-30
– Pengendapan
0-15
•
F (Bahaya Banjir)
–
Tidak ada 90-100
–
Kadang-kadang 70-90
–
Banjir dalam 1 th teratur slama 1 bln 50-70
–
Banjir dlm 1 th teratur slama 2-5 bln 30-50
–
>6bln banjir teratur 5-30
Perhitungan
SIR
a.
Lokasi Titik 1
1.
Faktor A 40 (40%)
2.
Faktor B 100 (100%)
3.
Faktor C 85 (85%)
4.
Faktor D 90 (90%)
5.
Faktor E 80 (80%)
6.
Faktor F 90
(90%)
Tabel
6 Parameter Penilaian Kemampuan Lahan
|
No.
|
Faktor pembatas
|
Nilai
|
||
|
Lokasi 1 (%)
|
Lokasi 2 (%)
|
Lokasi
3 (%)
|
||
|
1.
|
Faktor
A (kedalaman tanah)
|
40
|
50
|
30
|
|
2.
|
Faktor
B ( tekstur tanah)
|
100
|
100
|
90
|
|
3.
|
Faktor
C (lereng)
|
85
|
70
|
70
|
|
4.
|
Faktor
D (aliran permukaan)
|
90
|
60
|
60
|
|
5.
|
Faktor
E ((bahaya erosi)
|
80
|
80
|
60
|
|
6.
|
Faktor
F (bahaya banjir)
|
90
|
70
|
70
|
|
Nilai SIR
|
22%
|
11,7%
|
4,7%
|
|
Ø Sub kelas
·
Kecuraman
lereng dikelompokkan sbb:
–
A = 0 – 3%
(datar)
–
B = >3
sampai 8% (landai atau bermabak)
–
C = >8
sampai 15% (agak miring atau bergelombang)
–
D = >15
sampai 30% (miring atau berbukit)
–
E = >30
sampai 45% (agak curam atau bergunung)
–
F = >45
sampai 65% (curam)
–
G = >65%
(sangat curam)
·
Bahaya erosi
–
e0 = tidak
ada erosi
–
e1 = ringan,
<25% lapisan atas hilang
–
e2 = sedang,
25-75% lapisan atas hilang
–
e3 = agak
berat, >75% lap.atas sampai <25%
lap. Bawah hilang
–
e4 = berat,
>25% lap.bawah hilang
–
e5 = sangat
berat : erosi parit
·
kedalaman tanah
–
ko = >90
cm (dalam)
–
k1 = 90 – 50
cm (sedang)
–
k2 = 50 – 25
cm (dangkal)
–
k3 = <25
cm (sangat dangkal)
·
Tekstur Tanah
–
t1 = tekstur
halus : tekstur liat berpasir, liat berdebu dan liat.
–
t2 = tekstur
agak halus : tekstur lempung liat berpasir, lempung berliat dan lempung liat berdebu.
–
t3 = tekstur
agak kasar : tekstur lampung berpasir, lempung berpasir halus dan lempung
berpasir sangat halus.
–
t4 = tekstur
kasar : tekstur pasir berlempung dan pasir
·
Bahaya Banjir
O0 = Dalam waktu 1 tahun tidak
pernah mengalami banjir untuk waktu 24 jam
O1 = Banjir lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam jangka waktu
kurang dari satu bulan
O2 = Selama satu bulan dalam
setahun secara teratur menderita banjir lebih dari 24 jam
O3 = 2 – 5 bulan dalam setahun secara teratur menderita banjir lebih dari
24 jam
O4 = 6 bulan atau lebih dilanda banjir secara
teratur lebih dari 24 jam
Tabel
7 Kelas Kemampuan Lahan
|
NNo
|
Faktor Pembatas
|
Satuan
|
Kelas Kemampuan Lahan
|
||
|
SPL 1
|
SPL 2
|
SPL 3
|
|||
|
1.
|
Tekstur (t)
|
kelas
|
t2
|
t2
|
t3
|
|
2.
|
Lereng (%) (l)
|
%
|
l2
|
I3
|
I4
|
|
3.
|
Drainase (d)
|
Kelas
|
d1
|
d1
|
d2
|
|
4.
|
Kedalaman
Efektif (k)
|
Cm
|
k2
|
k1
|
k1
|
|
5.
|
Tingkat Erosi
(e)
|
Kelas
|
e1
|
e1
|
e2
|
|
6.
|
Bahaya Banjir
(o)
|
Kelas
|
o0
|
o1
|
o1
|
|
7.
|
Kelas Kemampuan Lahan
|
III
|
III
|
IV
|
|
|
8.
|
Faktor Pembatas
|
Kedalaman efektif
|
Kedalaman efektif
|
Kedalaman efektif
|
|
|
9.
|
Sub Kelas Kemampuan Lahan
|
III, k2
|
III, k1
|
IV, k1
|
|
|
|
|||||
Kelas kemampuan lahan merupakan suatu metode untuk Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL)
menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di
Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care
Research New Zealand dengan Dept. Kehutanan tahun 1988- 1990 di BTPDAS
Surakarta (Fletcher dan Gibb, 1990). Pada lokasi pengamatan titik pertama
diperoleh hasil bahwa lahan kemampuan lahan berada pada kelas IIIk2. Dikonversikan ke dalam kelas III sebab
mempunyai nilai SIR yang termasuk dalam kriteria kelas Kemampuan lahan III
yaitu 40-59%. Kelas kemampuan lahan III cocok untuk sebagian kecil penggunaan
lahan dengan hasil sedang. Klasifikasi kemampuan lahan kelas III mempunyai hambatan
berat yang mengurang i pilihan penggunaan dan memerlukan tindakan konservasi
khusus. Kelas kemampuan lahan berada pada subkelas k2 berarti tipe penggunaan
lahan mempunyai faktor pembatas pada kedalaman efektif tanah. Faktor pembatas
bersifat sedang dengan kedalaman 0-64 cm.Pada lokasi titik 2
klasifikasi kemampuan lahan berada pada kelas III k1. Kemampuan lahan kelas III
masih dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Dengan pembatas kedalaman
efektif tanah.
Tabel 8 hasil
survei tanah dan evaluasi lahan di gunung klotok Lokasi 1
|
Penampang
|
Horison
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
![]() |
R (0-2 cm)
|
10YR 6/3
Warna tanah yang ditemukan pada horison ini adalah
abu-abu dengan bahan organik yang rendah. Tekstur tanah adalah pasir dengan tekstur
yang kasar, tidak melekat dan tidak dapat dibentuk bola atau gulungan.
|
Berada di permukaan
|
|
A (2-20 cm)
|
10 YR 2/1
struktur tanahnya remah dengan ukuran 2-5 mm dan
mempunyai simbol horison A
|
Berada di bawah lapisan pasir
|
|
|
Bw 1 (20-28 cm)
|
10 YR 3/3
mempunyai struktur tanah gumpal membulat dengan
simbol horison Bw,
|
Berada di bawah horison A
|
|
|
Bw 2 (28-64 cm)
|
10YR 2/1
Lapisan horison bawah bersturktur
gumpal bersudut, batas horison baur dan berombak.
|
Berada di bawah horison BW 1
|
Tabel 9 hasil survei tanah dan evaluasi lahan di
gunung klotok Lokasi 2
|
Penampang
|
Horison
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
![]() |
R
(0-2 cm)
|
10YR 6/3
Tekstur
tanah adalah pasir dengan tekstur yang kasar, tidak melekat dan tidak dapat
dibentuk bola atau gulungan. Sruktur tanahnya remah karena berupa pasir
dengan batas horison jelas dan berombak
|
Berada
di permukaan
|
|
A (2-16
cm)
|
10 YR 3/4
Batas
horisan baur, struktur tanahnya sudut membulat dengan ukuran 1-2
mm dan mempunyai simbol horison N.
|
Berada
di horison 2 di bawah tekstur pasir
|
|
|
Bw 1
(16-22 cm)
|
10 YR 3/2
Horison
3 mempunyai struktur tanah butir dengan simbol horison Bw, mempunyai
kedalaman 16-22 cm
|
Berada
di bawah horison A
|
|
|
|
BW 2 (22-76
cm)
|
7,5 YR ¾
Bersturktur gumpal bersudut, batas horison baur dan
berombak.
|
Berada
di bawah horison BW1
|
Tabel 10 hasil
survei tanah dan evaluasi lahan di gunung klotok Lokasi 3
|
Penampang
|
Horison
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
![]() |
A ( 0-3 cm )
|
7,5 YR 2,5/1
Tekstur tanah adalah pasir dengan rasa yang kasar,
tidak melekat dan tidak dapat dibentuk bola atau gulungan. Sruktur tanahnya
remah karena berupa pasir dengan batas horison jelas dan berombak
|
Berada
di permukaan
|
|
A
(3-20 cm)
|
7,5 YR 3/2
struktur
tanahnya gumpal bersudut dengan ukuran 2-5 mm dan mempunyai simbol horison A.
Struktur tanah remah dengan ukuran 1-2 mm. Batas horison berombak secara
jelas
|
Berada
di bawah horison A
|
|
|
Bw 1
(20-45 cm)
|
10 YR 3/2
mempunyai
struktur tanah remah dengan simbol horison Bw. Bertipe remah
|
Berada
di bawah horison A
|
|
|
Bw
2 (45-51 cm)
|
Glay 1 2,5/N
Batas
horison baur, bersturktur remah, batas horison baur dan berombak
|
Berada
di bawah horison Bw 1
|
|
|
Bt
(51-74 cm)
|
7,5 YR 2,5/2
Batas
horison baur, struktur : tipe gumpal membulat, berstruktur gumpal membulat dengan
ukuran 5-10 mm dengan simbol Bt
|
Berada
di bawah horison Bw 2
|
4.4 KESESUAIAN LAHAN
Komoditas : Jati
Tabel 11. Kesesuaian
lahan aktual titik 1
|
PERSYARATAN
PENGGUNAAN/KARAKTERISTIK/LAHAN
|
SPL 1
|
|
|
DATA
|
KELAS
|
|
|
Temperatur (tc)
|
|
|
|
Temperatur
rerata (0C)
|
-
|
-
|
|
Ketersediaan air (wa)
|
|
|
|
Curah hujan
(mm) pada musim pertumbuhan
|
-
|
-
|
|
Kelembaban (%)
|
-
|
-
|
|
Ketersediaan oksigen (oa)
|
|
|
|
Drainase
|
Sedang
|
S2
|
|
Media perakaran (rc)
|
|
|
|
Tekstur
|
Lempung liat berpasir, Agak halus
|
S1
|
|
Bahan kasar (%)
|
0
|
|
|
Kedalaman tanah
(cm)
|
64
|
N
|
|
Bahaya erosi (eh)
|
|
|
|
Lereng (%)
|
5%
|
S1
|
|
Bahaya erosi
|
Ringan
|
S2
|
|
Bahaya banjir (fh)
|
|
|
|
Genangan
|
Tidak pernah
|
S1
|
|
Penyiapan Lahan (lp)
|
|
|
|
Batuan
permukaan (%)
|
0
|
S1
|
|
Singkapan
batuan (%)
|
0
|
S1
|
|
Kelas
kesesuaian lahan
|
|
N
|
|
Faktor pembatas
|
|
rc
|
|
Sub kelas
kesesuaian lahan
|
|
N rc
|
Pada titik ke 1, kesesuaian lahan potensialnya yaitu dengan komoditas jati
dengan faktor pambatasnya adalah kelerengan. Pada kesesuaian lahan aktual
termasuk ke dalam kelas N. Karena lahan tersebut memiliki pembatas yang berat
dengan kedalaman 64 cm . lempung liat berpasir atau agak halus. Teksturnya
termasuk lempung liat berpasir, agak halus. Sedangkan pada kesesuaian lahan
potensial juga termasuk ke dalam kelas N dimana pembatas tersebut tidak mungkin
digunakan untuk penggunaan tujuan yang telah direncanakan. Jadi lahan di titik
1 sebenarnya tidak potensial untuk ditanami tanaman jati.
Komoditas :
Tanaman Mangga (titik 2)
Tabel 12. Kesesuaian
lahan aktual titik 2
|
PERSYARATAN
PENGGUNAAN/KARAKTERISTIK/LAHAN
|
SPL 1
|
|
|
DATA
|
KELAS
|
|
|
Temperatur (tc)
|
|
|
|
Temperatur rerata
(0C)
|
-
|
-
|
|
Ketersediaan air (wa)
|
|
|
|
Curah hujan (mm)
pada musim pertumbuhan
|
-
|
-
|
|
Kelembaban (%)
|
-
|
-
|
|
Ketersediaan oksigen (oa)
|
|
|
|
Drainase
|
Sedang
|
S2
|
|
Media perakaran (rc)
|
|
|
|
Tekstur
|
Lempung liat berpasir,agak halus
|
S1
|
|
Kedalaman tanah
(cm)
|
76
|
S2
|
|
Bahaya erosi (eh)
|
|
|
|
Lereng (%)
|
10
|
S1
|
|
Bahaya erosi
|
Ringan
|
S1
|
|
Bahaya banjir (fh)
|
|
|
|
Genangan
|
Tidak ada
|
S1
|
|
Penyiapan Lahan (lp)
|
|
|
|
Batuan permukaan
(%)
|
0
|
S1
|
|
Singkapan batuan
(%)
|
0
|
S1
|
|
Kelas kesesuaian
lahan
|
|
S2
|
|
Faktor pembatas
|
|
Rc,oa
|
Berdasarkan data yang ada dan
analisis yang dilakukan kelompok kami melakukan pengamatan pada 3 titik, dimana
setiap titik memiliki kesesuaian lahan dengan faktor pembatas yang berbeda
tentunya. Titik 2 pada kesesuaian lahan aktual termasuk dalam kelas S2 yaitu
drainase termasuk dalam kategori sedang, tekstur agak halus dengan kedalaman
tanah 76 cm. Kelerengannya mencapai 10% dan termasuk bahaya erosi yang ringan dengan
media perakarannya agak halus. Kesesuaian lahan potensial juga termasuk ke
dalam kelas S2 dengan kriteria lahan sama dengan kesesuaian lahan aktual.
|
komoditas : Ubi Kayu
(titik 3)
Tabel 13. Kesesuaian lahan aktual titik 3
|
||
|
PERSYARATAN PENGGUNAAN/KARAKTERISTIK/LAHAN
|
SPL1
|
|
|
DATA
|
KELAS
|
|
|
temperatur (tc)
|
|
|
|
temperatur rerata (˚C)
|
|
|
|
Ketersediaan air (wa)
|
|
|
|
curah hujan (mm) pada musim pertumbuhan
|
|
|
|
kelembaban (%)
|
|
|
|
ketersediaan oksigen (oa)
|
|
|
|
Drainase
|
Sedang
|
S2
|
|
media perakaran (rc)
|
|
|
|
Tekstur
|
Lempung liat berpasir, lempung berpasir, agak kasar
|
S2
|
|
bahan kasar (%)
|
0
|
S1
|
|
kedalaman tanah (cm)
|
64
|
S3
|
|
bahaya erosi (eh)
|
|
|
|
lereng (%)
|
5
|
S1
|
|
bahaya erosi
|
Ringan
|
S2
|
|
bahaya banjir (fh)
|
|
|
|
penyiapan lahan (lp)
|
|
|
|
kelas kesesuaian lahan
|
|
S3
|
|
faktor pembatas
|
S3rc
|
|
Pada titik ke 2 dengan faktor pembatas berupa kedalaman
tanah dan termasuk ke dalam kelas kesesuaian lahan S3. Tingkat kelerengan lahan
5% dengan kedalaman 64.. Kesesuaian lahan aktual pada titik ini drainasenya
sedang dengan tekstur tanahnya agak kasar. Sedangkan kesesuaian lahan potensial
juga dibatas oleh faktor kedalaman dengan data yang diperoleh sama dengan
kesesuaian pada lahan aktual.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Klasifikasi tanah pada titik
pengamatan 1 memiliki
epipedon Umbrik dan endopedon Kambik. Termasuk pada ordo Inseptisol. Pada subordo tanah ini tergolong Udept. Selanjutnya tanah ini masuk pada grup Dystrudept. Pada subgrup tanah ini masuk pada Humic Dystrudept. Pada titik pengamatan 2 memiliki epipedon Okrik,
Endopedon Kambik, termasuk pada ordo Inseptisol. Pada subordo tanah ini
tergolong Udepts karena memiliki ciri Inseptisol yang lain. Selanjutnya tanah ini masuk pada grup Dystrudepts karena terdapat Udept yang lain. Pada subgrup
tanah ini masuk pada Typic Dystrudepts. Mempunyai ciri Dystrudepts yang lain. Titik pengamatan 3
memiliki epipedon Umbrik, Endopedon Argilik,
tanah ini dapat dimasukkan pada ordo Alfisol.
Penggunaan lahan pada titik pengamatan 1 tanaman utamanya adalah Jati,
namun berdasarkan sifat tanah di daerah tersebut, tanah tidak potensial untuk
ditanami Jati dengan faktor penghambat kedalaman yaitu 64 cm. Pada pengamatan
lokasi 2 tanah potensial untuk ditanami tanaman mangga yaitu pada tingkat
kesesuaian S2 dengan faktor pembatas tanah kedalaman dan drainase yang bersifat
sedang. Sedangkan pengamatan lokasi 3 lahan ptensial untuk lahan pertanian
dengan komoditas tanaman ubi kayu, kelas kesesuaian lahan S3 dengan faktor
pembatas kedalaman tanah yang mampu ditembus oleh tanaman. Lahan pada titik
ini bertekstur agak kasar.
5.2 Saran
Berdasarkan pengamatan disarankan pada lokasi pengamatan titik 3
sebaiknya diganti dengan komoditas tanaman selain jati sebab Evaluasi
Kesesuaian Lahan, lahan tidak potensial untuk tanaman Jati.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad S, 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB
Bogor. 200pp
Arsyad, S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB
Brady,
N. C. and R. R. Weil. 2004. Element og
Nature and Properties of Soils. Prentice-Hall, Inc., NJ.
Djaenuddin, D, Dkk, (1994). Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian dan
Kehutanan (Land Suitability for Agriculture and Silvicultural Plants).
Second Land Resource Evaluation and Planning Project, ADB Loan 1099, INO,
Laporan Teknis No 7 Versi 1.0. 51 pp
FAO. 1976. “A
Framework for Land Evaluation.” FAO Soil Bulletin 32. Soil Resources Management
and Conservation Service Land and Water Development Divition. Rome, Italy: FAO
FAO.
1985. “Guidelines: Lines Evaluation for
Irrigated Agriculture”. Soil Bulletin 55, Rome, Italy: FAO. 231 pp.
FAO.
1990. “Guidelines for Soil Description”.
3rd Edition. (revised). Soil Res. Dev. and Coserv. Service. Land and Water Dev.
FAO, Rome
Harjowigeno,
S. 1992. “Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan”. Institut Pertanian
Bogor : Bogor.
Haryono,
Eko. 2005. “ Geomorfologi dan Hidrologi Karst “. Universitas Gajahmada Press :
Yogyakarta.
Purnomo,
Doni. 2012. “Definisi Landform Aluvial”. (online) http://pinterdw.blogspot.com.
Diakses tanggal 17 Mei 2013
Sys,C.,E. Van Ranst, J. Debaveye 1991.
Land Evaluation Part I. Principles in Land Evaluation and Crop Production
Calculation. International Training Centre For Post- Graduate Soil Scientist
University Ghent.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih